Kamis, 04 Maret 2010

IN/POL: JWP -Menumpas Makar PKI 1

 Jawa Pos
2 September 1996
Mengenang Partisipasi Politik Banser 1965
Menumpas Makar PKI 1 Oktober 1965
Oleh Agus Sunyoto *

 Aksi sepihak yang dilakukan PKI berpuncak pada pembunuhan atas Pelda
   Sudjono di Bandar Betsy. Dengan menggunakan cangkul, linggis,
   pentungan, dan kapak sekitar 200 orang BTI membantai perwira itu.
   Pembantaian terhadap anggota militer itu mendapat reaksi keras dari
   Letjen A Yani. Tokoh-tokoh PKI yang mendalangi kemudian diproses
   secara hukum. Namun hal itu makin menambah keberanian PKI dalam
   melakukan aksi sepihak.
   
   PKI yang sudah merasa kuat, kemudian melakukan intervensi ke bidang
   politik dengan merekayasa suatu "kebulatan tekad" dari organisasi
   se-aspirasi mereka. Tanggal 6 Januari 1965, organisasi se-aspirasi PKI
   seperti SB/SS Pegawai Negeri, Lekra, Gerwani, Wanita Indonesia, Pemuda
   Indonesia, Germindo, Pemuda Demokrat, Pemuda Rakyat, BTI dan
   sebagainya mengadakan pertemuan umum di Semarang guna menggalang
   "kebulatan tekad" untuk menuntut pembubaran Badan Pendukung Soekarno
   (BPS) dan mendukung sikap Indonesia keluar dari PBB (Pusjarah ABRI,
   1995,IV-A:107-108).
   
   Keberanian PKI dalam melakukan aksi sepihak, ditunjukkan dalam aksi
   yang lebih berani yakni menduduki kantor kecamatan Kepung, Kediri.
   Camat Samadikun dan Mantri Polisi Musin, melarikan diri dan meminta
   perlindungan Ketua Ansor Kepung yaitu Abdul Wahid. Untuk sementara,
   kantor kecamatan dipindah ke rumah Abdul Wahid. Dan sehari kemudian,
   sekitar 1000 orang Banser melakukan serangan ke kantor kecamatan untuk
   merebutnya dari kekuasaan PKI. Hanya dengan bantuan Gerwani, ratusan
   PKI yang menguasai kantor itu bisa lolos dari sergapan Banser.
   
   PKI juga telah mulai berani membunuh tokoh PNI. Ceritanya, di desa
   Senowo, Kenocng, Kediri, tokoh PNI bernama Paisun diculik PKI desa
   Botorejo dan Biro. Keluarganya lapor kepada Ansor. Waktu dicari, mayat
   Paisun ditemukan di WC dengan dubur ditusuk bambu tembus ke dada.
   Banser dibantu warga PNI menyerang para penculik. Tokoh-tokoh PKI dari
   Botorejo dan Biro dibantai. Malah dalang PKI bernama Djamadi, dibantai
   sekalian karena menjadi penunjuk jalan PKI. Juni 1965, Naim seorang
   pendekar PKI desa Pagedangan, Turen, malang menantang Banser sambil
   membanting Al-Qur'an. Naim dibunuh Samad. Mayatnya dibenamkan di
   sungai.
   
   KUDETA 1 OKTOBER 1965
   Tanggal 1 Oktober 1965 mulai pukul 03.30 sampai 05.00, gerakan makar
   PKI yang dipimpin oleh Letkol Untung menculik para Jenderal AD yang
   difitnah sebagai anggota Dewan Jenderal. Letjen Ahmad Yani, Brigjen DI
   Panjaitan, Mayjen Soetoyo, Mayjen Soeprapto, Brigjen S. Parman, dan
   Mayjen Haryono MT mereka culik dan bunuh (Puspen AD, 1965: 9-10).
   Sekalipun aksi itu terjadi 1 Oktober 1965, PKI menamakan aksinya itu
   dengan nama "Gerakan 30 September". Tanggal 1 Oktober itu juga, Letkol
   Untung menyatakan bahwa kekuasaan berada di tangan Dewan Revolusi.
   Untung juga menyatakan kabinet demisioner. Pangkat para jenderal
   diturunkan sampai setingkat letnan kolonel, dan prajurit yang
   mendukung Dewan Revolusi dinaikkan pangkat satu sampai dua tingkat.
   
   Aksi sepihak Letkol Untung yang menculik para jenderal dan membentuk
   Dewan Revolusi serta mendemisioner kabinet, jelas merupakan upaya
   kudeta. Sebab dalam Dewan Revolusi itu tidak terdapat nama Presiden
   Soekarno. Kabinet yang didemisioner pun adalah kabinet Soekarno. Dan
   jenderal-jenderal yang diculik pun adalah jenderal-jenderal yang setia
   pada Soekarno. Bahkan Jenderal A.H. Nasution, adalah jenderal yang
   pernah ditugasi Soekarno untuk menumpas PKI dalam pemberontakan di
   Madiun 1948.
   
   Menghadapi aksi sepihak Letkol Untung, tanggal 1 Oktober 1965 itu juga
   PBNU mengeluarkan pernyataan sikap untuk mengutuk gerakan tersebut.
   Pada 2 Oktober 1965, pimpjna muda NU, Subchan Z.E., membentuk Komando
   Aksi Pengganyangan Kontra Revolusi Gerakan 30 September disingkat KAP
   GESTAPU yang mengutuk dan mengganyang aksi kudeta 1 oktober 1965 itu.
   
   Tanggal 2 Oktober itu pula Mayjen Sutjipto, Ketua Gabungan V KOTI,
   mengundang wakil-wakil ormas dan orpol yang setia pada Pancasila ke
   Mabes KOTI di Jl Merdeka Barat. Rapat kemudian memutuskan untuk secara
   bulat berdiri di belakang Jenderal Soeharto dan Angkatan Darat (O.G.
   Roeder, 1987: 48-49). Sementara di Kediri, tanggal 2 Oktober 1965
   sudah tersebar pamflet-pamflet yang menyatakan bahwa dalang di balik
   peristiwa 1 Oktober 1965 adalah PKI.
   
   BENTROK BANSER VS PKI
   10 Oktober 1965, sekalipun PKI menyatakan bahwa peristiwa 1 Oktober
   yang dinamai 'Gerakan 30 September' itu adalah persoalan intern AD dan
   PKI tidak tahu-menahu, anggota Banser di kabupaten Malang mulai
   menurunkan papan nama PKI beserta ormas-ormasnya. Hari itu juga,
   tokoh-tokoh PKI di daerah Turen mulai diserang Banser dan dibunuh. Di
   antara tokoh PKI yang terbunuh saat itu adalah Suwoto, Bowo, dan
   Kasiadi. Palis, kawan akrab Bowo, karena takut dibunuh Banser malah
   bunuh diri di kuburan desa Pagedangan.
   
   11 Oktober 1965, Banser beserta santri dari berbagai pesantren di
   Tulungagung menyerang PKI di kawasan Pabrik Gula Mojopanggung. Sekitar
   3 ribu orang PKI yang sudah bersiaga dengan senjata panah, kelewang,
   tombak, pedang, clurit, air keras, dan lubang-lubang di dalam rumah,
   berhasil dilumpuhkan. Tanpa melakukan perlawanan berarti, pasukan PKI
   itu ditangkapi Banser dan disembelih. Para anggota Banser dan santri
   yang usianya sekitar 13 - 16 tahun itu, berhasil melumpuhkan para
   jagoan PKI.
   
   Pada 12 Oktober 1965, sekitar 3 ribu orang anggota Banser mengadakan
   apel di alun-alun Kediri. Setelah apel usai, mereka bergerak
   menurunkan papan nama PKI beserta ormas-ormasnya di sepanjang jalan
   yang mereka lewati. Di markas PKI di desa Burengan, telah siaga
   sekitar 5 ribu orang PKI dengan bermacam- macam senjata. Iring-iringan
   Banser yang dipimpin Bintoro, Ubaid dan Nur Rohim itu kemudian
   dihadang oleh PKI. Terjadi bentrokan berdarah dalam bentuk tawuran
   massal. Sekitar 100 orang PKI di sekitar markas itu tewas. Sementara,
   di pihak Banser tidak satupun jatuh korban. Dalam peristiwa itu,
   Banser mendapat pujian dari Letkol Soemarsono, komandan Brigif 6
   Kediri karena kemenangan mutlak Banser dalam tawuran massal itu.
   
   Pada 13 Oktober 1965, sekitar 10 ribu orang PKI di kecamatan Kepung,
   Kediri, melakukan unjuk kekuatan dalam upacara pemakaman mayat Sikat
   tokoh PKI setempat yang tewas dalam peristiwa di Burengan. Mereka
   menyatakan akan membalas kematian para pimpinan mereka. Dan sore hari,
   dua orang santri dari pondok Kencong yang pulang ke desanya di Dermo,
   Plosoklaten, dicegat di tengah jalan. Seorang dibunuh. Tubuh
   dicincang. Seorang dikubur hidup-hidup.
   
   Kematian dua orang santri yang masih remaja itu, membuat Banser marah.
   Tapi mereka belum berani menyerbu ke desa Dermo, karena kedudukan PKI
   di situ sangat kuat. Akhirnya, Banser setempat meminta bantuan Banser
   dari pondok Tebuireng, Jombang. Dengan kekuatan lima truk, Banser
   Tebuireng masuk ke desa Dermo. Truk mereka diberi tulisan BTI
   singkatan dari Banser Tebu Ireng. Rupanya, PKI menduga bahwa BTI itu
   adalah Barisan Tani Indonesia yang merupakan ormas mereka. Walhasil,
   bagaikan siasat "kuda Troya", pertahanan PKI di desa Dermo dihancurkan
   dari dalam.
   
   Pertarungan antara Banser dengan PKI yang berakibat fatal bagi Banser
   adalah di Banyuwangi. Ceritanya, Banser dari Muncar yang umumnya dari
   suku Madura dikenal amat bersemangat mengganyang PKI. Itu sebabnya,
   pada 17 Oktober 1965, di bawah pimpinan Mursyid, dengan kekuatan tiga
   truk mereka menyerang kubu PKI di Karangasem. Di Karangasem, terjadi
   bentrok berdarah setelah Banser tertipu dengan makana beracun. Dalam
   bentrokan itu 93 orang Banser gugur. Sisanya melarikan diri ke arah
   Jajag dan ke arah Cluring. Ternyata, Banser yang lari ke Cluring
   dihadang PKI di desa itu. Sekitar 62 orang Banser dibantai dan
   dimakamkan di tiga lubang dekat kuburan desa.
   
   Pada 27 Oktober 1965, pemerintah mengeluarkan seruan agar
   masing-masing ormas tidak saling membunuh dan melakukan aksi
   kekerasan. Siapa saja yang melakukan penyerangan sepihak, akan diadili
   sebagai penjahat. Seruan itu dimanfaatkan oleh PKI. Mereka melaporkan
   anggota Banser yang telah membunuh keluarga mereka. Dan jadilah
   hari-hari sesudah 27 Oktober itu penangkapan dan pemburuan aparat
   keamanan terhadap Banser.
   
   PENUMPASAN PKI
   Dalam bulan November-Desember, setelah sejumlah pimpinan PKI seperti
   Brigjen Supardjo, Letkol Untung, Nyono, Nyoto, dan Aidit diberitakan
   tertangkap, makin terkuaklah bahwa perancang kudeta 1 Oktober 1965
   adalah PKI. Saat-saat itulah pihak ABRI khususnya AD mulai melakukan
   pembersihan dan penumpasan terhadap PKI beserta ormas-ormasnya. Dan
   tangan kanan yang digunakan oleh pihak militer itu adalah "anak didik"
   mereka sendiri dalam hal ini adalah Banser yang memiliki jumlah
   anggota puluhan ribu orang.
   
   Dalam suatu aksi penangkapan dan penumpasan PKI di Kediri, misalnya,
   pihak AD hanya menurunkan 21 personil. Sedang Banser yang dilibatkan
   mencapai jumlah 20 ribu orang lebih. Dengan jumlah yang besar itu,
   diadakan operasi yang disebut "Pagar Betis" yakni wilayah kecamatan
   Kepung dikepung oleh Banser dalam jarak satu meter tiap orang. Dengan
   cara pagar betis itulah, PKI tidak dapat lolos. Sekitar 6000 orang PKI
   tertangkap (kisah lengkap terdapat dalam buku saya berjudul "Banser
   Berjihad Menumpas PKI" 1996).
   
   Penangkapan besar-besaran juga terjadi di Banyuwangi, Blitar, Malang,
   Tulungagung, Lumajang dan kesemuanya melibatkan Banser. Mengenai
   keterlibatan Banser dalam menumpas PKI, itu Komandan Kodim Kediri
   Mayor Chambali (alm) menyatakan bahwa hal itu merupakan strategi ABRI
   yang ampuh. Sebab di tubuh Banser tidak tersusupi unsur PKI. Sementara
   jika dalam penumpasan itu hanya ABRI yang dilibatkan, maka pihak ABRI
   sendiri belum bisa menentukan siapa lawan dan siapa kawan karena
   banyaknya anggota ABRI yang dibina PKI.
   
   OPERASI TRISULA
   Tahun 1968, ketika PKI sudah dibubarkan dan pengikutnya ditumpas,
   terjadi aksi-aksi kerusuhan di Blitar Selatan. Aksi- aksi kerusuhan
   yang berupa perampokan, penganiayaan, penculikan, dan pembunuhan itu
   selalu mengambil korban warga NU dan PNI. Sejumlah korban yang
   terbunuh, misalnya, Kiai Maksum dari Plosorejo, Kademangan. Sesudah
   itu Imam Masjid Dawuhan. Tokoh PNI yang terbunuh adalah Manun dari
   desa Dawuhan, kemudian Susanto Kepala Sekolah Panggungasri, dan Sastro
   kepala Jawatan Penerangan Binangun. Puncaknya, 2 orang anggota Banser
   yang sedang jaga keamanan di gardu di bunuh.
   
   Para pimpinan Ansor Blitar melaporkan kecurigaan mereka kepada
   Komandan Kodim akan bangkitnya kembali kekuatan PKI di Blitar. Namun
   laporan itu tak digubris. Akhirnya, mereka menghubungi seorang aktivis
   Ansor yang menjadi Danrem Madiun yakni Kolonel Kholil Thohir. Oleh
   Kholil Thohir disiapkan 3 batalyon yaitu 521, 511, dan 527 untuk
   operasi yang diberi nama sandi "Operasi Blitar Selatan" . Namun
   operasi berkekuatan 3 batalyon itu tidak mampu mengatasi gerakan
   gerilya PKI.
   
   Operasi kemudian diambil-alih oleh Kodam VIII/ Brawijaya yang
   menurunkan 5 batalyon yaitu 521, 511, 527, 513, dan 531 dengan
   Perintah Operasi No.01/2/1968. Namun operasi dari Kodam inipun kurang
   efektif. Akhirnya, setelah dievaluasi diadakan operasi besar-besaran
   dengan melibatkan semua unsur yakni kelima batalyon ditambah
   unsur-unsur lain termasuk 10 ribu orang hansip dan warga masyarakat
   Blitar Selatan. Surat perintah operasi itu bernomor 02/5/1968. Dan
   penting dicatat bahwa 10 ribu orang Hansip itu adalah anggota Banser
   yang diberi pakaian Hansip.
   
   Dalam operasi terpadu yang diberi nama sandi "Operasi Trisula" itu,
   sejumlah tokoh PKI berhasil ditewaskan. Di antara mereka itu adalah Ir
   Surachman dan Oloan Hutapea. Sedang mereka yang tertangkap di
   antaranya adalah Ruslan Wijayasastra, Tjugito, Rewang, Kapten
   Kasmidjan, Kapten Sutjiptohadi, Mayor Pratomo, dan beratus-ratus
   anggota PKI yang lain. Dan salah satu strategi operasi yang paling
   efektif dalam Operasi Trisula itu adalah "Pagar Betis" yang melibatkan
   10.000 orang Banser ditambah warga masyarakat yang kebanyakan juga
   anggota Banser yang tidak kebagian seragam. Satu ironi mungkin terjadi
   dalam Operasi Trisula itu, yakni selama operasi itu berlangsung telah
   ditangkap sejumlah 182 orang anggota Kodam VIII/Brawijaya di antaranya
   berpangkat perwira yang ikut dalam operasi tersebut (Pusjarah ABRI,
   1995, IV-B:101-108).
   
   Berdasar uraian singkat ini, dapat disimpulkan bahwa kelahiran Banser
   tidak terlepas dari peranan ABRI terutama AD dan Brimob yang ikut
   membidaninya. Itu sebabnya, keberadaan Banser sebagai paramiliter yang
   digunakan untuk membantu proses penumpasan PKI oleh ABRI memiliki
   nilai historis yang kuat, di mana semangat antikomunisme yang
   terkristalisasi dalam doktrin Banser itu dapat dimanfaatkan
   sewaktu-waktu oleh pihak ABRI jika negara dalam keadaan terancam
   (habis)


Sumber: http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1996/09/01/0062.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar